Open/Close Menu Ramah perilaku kami, Santun budaya kami, Sungguh-sungguh cara kerja kami

Alzheimer Dideteksi Lewat Mata, Bisakah?

Alzheimer bisa terjadi karena sebagian sel-sel di otak sudah tak lagi berfungsi, sehingga tampak mengerut dan mengecil. Hal ini dapat mengakibatkan kemampuan otak menurun drastis. Risiko dari terjadinya penyakit ini akan meningkat bersama dengan bertambahnya usia.

Seseorang yang mengalami Alzheimer setelah menginjak usia 60 tahun ke atas, yang membuatnya sering disalahartikan sebagai pikun biasa.

Perlu diperhatikan Alzheimer tidak bisa disepelekan dan dianggap sebagai “penyakit orang tua”. Mengingat penderitanya terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Laporan Alzheimer’s Disease International menyebutkan bahwa pada tahun 2015, terdapat 46.8 juta orang penderita demensia. Angka ini akan bertambah menjadi dua kali lipatnya setiap 20 tahun sekali. Diperkirakan pada tahun 2050, terdapat 131.5 juta orang dengan demensia dan sekitar 68%-nya berasal dari negara dengan pendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia,” ujar dr. Fiona Amelia dari KlikDokter.

Beberapa penelitian sedang mencari penyebab di balik penyakit Alzheimer, meski belum ditemukan secara pasti. Seperti yang dikutip dari Newsweek.com, ada satu studi menyebutkan jika kondisi ini dapat dideteksi melalui mata.

Deteksi Alzheimer melewati mata

Meski tak ada obat untuk Alzheimer, melakukan deteksi dini sangatlah penting karena beberapa gejala sebenarnya dapat diobati. Akan tetapi, saat ini tidak ada tes biologis yang dapat diandalkan dan metode diagnostik seperti tes cairan serebrospinal tergolong mahal.

Penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa amiloid, protein yang terkumpul di otak para penderita Alzheimer, bisa memengaruhi retina mata. Para ilmuwan di Universitas Washington di St. Louis menjelaskan bahwa tes mata sederhana dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit yang berhubungan dengan kondisi neurodegeneratif.

Para peneliti meminta 30 orang dewasa yang tidak menunjukkan tanda-tanda demensia. Setiap peserta melakukan pemeriksaan angiografi tomografi koherensi optik yang memberikan gambaran pembuluh darah mata.

Dari total peserta, 14 di antaranya disinyalir memiliki tanda-tanda Alzheimer. Orang-orang tersebut juga lebih mungkin memiliki kelainan pada retina mereka dibandingkan dengan yang tidak memiliki gejala kelainan neurodegeneratif.

Sementara hasil studi yang dipublikasikan di JAMA Ophthalmology ini menjanjikan, para peneliti menilai bahwa perlu ada uji coba lainnya agar hasil lebih relevan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara melibatkan partisipan yang lebih banyak untuk mendiagnosis penyakit.

Mengetahui kondisi Alzheimer di Indonesia

Berdasarkan penjelasan dr. Fiona, pada tahun 2015 kemarin saja, terdapat 1.2 juta orang Indonesia yang hidup dengan demensia. Angka ini akan menjadi dua kali lipatnya pada tahun 2030, dan mencapai 4 juta orang pada 2050.

“Sampai saat ini, belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan demensia maupun penyakit Alzheimer. Karena itu, yang terbaik adalah melakukan pencegahan dan promosi kesehatan,” kata dr. Fiona.

Lebih detail dr. Fiona menjelaskan bahwa total biaya yang dikeluarkan untuk pasien Alzheimer sebesar Rp10.675 triliun per tahun. Sedangkan di Indonesia, biaya ini mencapai Rp23 triliun. Perawatan mencakup ongkos perawatan dan pengasuh, kebutuhan pasien, serta kerugian akibat kehilangan mata pencaharian.

Alzheimer bisa dideteksi melalui mata, akan tetapi masih dibutuhkan penelitian yang lebih tepat guna mendukung setiap temuan. Peningkatan pemahaman masyarakat serta menjaga pola hidup sehat pun penting agar lansia dan mereka yang terdeteksi Alzheimer tidak kehilangan produktivitas di masa depan.

Write a comment:

*

Your email address will not be published.

© 2020 - Klinik Pulowatu support by PT. PMI

Telepon Kami       (0274) 896 014